Posted in Dakwah, Uncategorized

Struktur Ilmu Dakwah

  1. Pengantar.windi8

Aktivitas dakwah sebenarnya telah ada sejak adanya upaya menyampaikan dan mengajak manusia ke jalan Allah, namun kajian akademik keilmuannya masih tertinggal dibandingkan dengan panjangnya sejarah dakwah yang ada. Sebagai sebuah realita, dakwah merupakan bagian yang senantiasa ada sebagai aktivitas keagamaan umat Islam. Sementara sebagai kajian keilmuan pastinya hal ini memerlukan spesifikasi yang berbeda dan persyaratan tertentu.

Dewasa ini terdapat beberapa fenomena yang kemudian menempatkan kesadaran umat bahwa dakwah sebagai suatu aktivitas keagamaan memang memiliki kekutan yang besar dalam membentuk kecendrungan masyarakat. Hal ini sekaligus menumbuhkan secara jelas dan tegas sehingga ilmu ini dapat memberikan inspirasi yang baik bagi kecendrungan masyarakat.

Maraknya dakwah, ternyata belum mampu menahan masuknya beberapa ajaran atau pemahaman yang tidak relevan dengan nilai-nilai ajaran agama secara hedonistik, matrealistik, dan sekuleristik.  Hal inilah yang kemudian menimbulkan kesalahpahaman dalam memahami dan menghayati pesan simbolis keagamaan. Sehingga ritualitas perilaku kesalehan dalam beragama masyarakat tidak menerangkan tentang perilaku keagamaan yang sesungguhnya di mana nilai-nilai keagamaan menjadi pertimbangan dalam berfikir maupun bertindak oleh individu maupun sosial.

Ilmu dakwah mengalami proses perkembangan yang positif sehinnga semakin hari semakinestabilished sehingga semakin waktu mendapat sambutan dan pengakuan dari masyarakat mengenai eksistensinya.

  1. Eksistensi dan Objek Studi Ilmu Dakwah.

Setiap ilmu pengetahuan mempunyai objek studi, karena ia merupakan salah satu pokok syarat ilmu pengetahuan, di samping syarat-syarat lain yakni metodik, universal, dan sistematis.

Ada dua objek kajian dalam ilmu dakwah, objek material adalah semua aspek ajaran islam (Al Qur’an dan Sunnah), hasil ijtihat dan reaksasinya dalm sistem pengetahuan, teknologi, sosial, hukum, ekonomi, pendidikan, dan lainnya, khususnya kelembagaan islam. Objek material ilmu dakwah inilah yang menunjukkan bahwa ilmu dakwah adalah satu rumpun dengan ilmu-ilmu denagn keislaman lainnya, karena objek yang sama juga diikuti olek ilmu-ilmu keislamn lainnya, seperti: Fiqh, Ilmu Kalam, dan lainnya. Adapun objek formal adalah bagian dari objek material yang hanya disoroti oleh suatu ilmu tertentu, sehinnga dapat membedakan ilmu satu denagn ilmu lainnya.

Sedangkan menurut Poedjawijadna yang dikatakan  dalam bukunya; Tahu dan Pengalaman sebagai berikut; ”jika pengetahuan hendak disebut sebagai ilmu, maka haruslah objektifitas, bermetodos universal, dan sistematis.

Syarat-syarat dari ilmu pengetahuan adalah objektif. Syarat ini mengandung pengertian, yaitu:

  1. Bahwa ilmu pengetahuan itu harus memilki objek studi yang menjadi lapangan penilitian. Dalam hal ini ada yang menyebutkan dengan objek materi dan objek formal. Dalam objek yang sama maka lapangan penyelidikan itu disebut dengan objek material sedangkan dari sudut mana objek material itu disoroti disebut dengan objek formal. Objek formallah yang menentukan macam ilmu jika ada beberapa ilmu yang memiliki objek meterial yang sama.
  2. Objektif itu juga berarti bahwa ilmu itu harus sesuai dengan keadaan objeknya dan persesuaian antara pengetahuan dan objeknya itulah yang disebut kebenaran”.

Semua itu harus juga metodik, artinya untuk mencapai kebenaran tersebut harus digunakan cara-cara tertentu atau menggunakan metode ilmiah. Metode ilmiah tersebut oleh F. Isjawara, dikatakan sebagai: “Metode senantiasa alat yang digunakan untuk menguji suatu kebenaran pengetahuan , alat untuk memvarivikasikan apakah pengetahuan kita mengenai suatu hal sesuai dengan keadaan sebenarnya. Sebagai alat metode ilmiah merupakan suatu prosedur yang melalui beberapa penyelidikan.”

  1. Syarat ketiga dari ilmu pengetahuan adalah universal, artinya kebenaran yang telah diperoleh dengan menggunakan metode ilmiah itu harus merupakan kebenaran yang bersifat umum.

Adapun objek forma dari dakwah adalah suatu jawaban terhadap pertanyaan “bagaiman memanggil manusia untuk taat menjalnkan ajaran agama”

Imam Sayuti Farid secara lebih rinci menerangkan bahwa objek materi ilmu dakwah adalah proses penyampaian ajaran kepada umat manusia, sedangkan objek formanya adalah proses penyampaian ajaran islam kepada umat manusia yang terdiri dari:

  1. Proses penyampaian agama islam.
  2. Hubungan antara unsur-unsur dakwah.
  3. Proses keagamaan pada diri manusia.

Dakwah modern memerlukan strategi dan perencanaan yang canggih. Itu tidak akan terwujud bila proses dakwah tidak didukung dengan wawasan teoritis yang memadai. Ilmu dakwah de facto sudah diakui tinggal upaya meningkatkan dan merokonstruksi diri untuk mendapatkan de yure-nya. Itu berarti mengundang para peminat ilmu dakwah untuk bekaerja lebih luas lagi.

Selanjutnya A. Choirul Basori setelah mempelajari karya-karya ilmiah tentang ilmu dakwah  yang telah beredar di masyarakat menyebutkan adanya beberapa pandangan terhadap ilmu dakwah:

  1. Golongan yang berpendapat bahwa ilmu dakwah yang pembenarannya normatif doktrin mengambil arti ayat-ayat Al Qur’an  dan Hadits sudah memadai sebagai ilmu walaupun bukan sebagai ilmu pengetahuan. Golongan ini terlalu berlebihan dalam mefungsikan ayat-ayat AlQur’an dan Hadits. Padahal  penerapan wahyu dalam dunia empiris perlu penggunaan rasio manusia, wahyu berfungsi sebaga penyinar, petunjuk, pembimbing, dan pengarah. Dan atas penemuannya disusunlah teori-teori unruk mengatasi problem kehidupan.
  2. Golongan yang berpendapat bahwa ilmu dakwah yang sekarang ini belum bisa diterima sebagai sebuah disiplin ilmu, masih merupakan pengetahuan nonsains. Alasan yang dikemukakan adalah bahwa ia belum dibangun atas metode keilmuan. Golongan ini terlalu apriori. Padahal apabila kita mau berfikir dengan seksama, seorang penulis yang terpelajar di dalam memahami nash-nash Al Qur’an d an Hadits, dan menjabarkannya dalam tulisan, ia tidak bekerja dengan jiwa yang kosong seperti robot. Pengalaman demi pengalaman telah terolah dengan logikanya, kemudian mengendap dan secara reflektif keluar berupa pikiran-pikiran yang baru, tertuang dalam tulisan-tulisannya, namun demikian memang perlu diadakan rekonstruksi tentang sistem penulisan buku-buku ilmu keislaman.
  3. Golongan ini berpendapat bahwa ilmu dakwah tidak lain adalah ilmu komunikasi, mengingat yang berbeda hanyalah mengenai materi messages-nya. Golongan ini kurang seksama dalam aspek-aspek yang berada antara ilmu dakwah dan ilmu komunikasi. Bahkan perbedaan itu menyangkut yang paling asasi yaitu mengenai objek forma dan dasar pembentukannya. Objek kajian ilmu komunkasi adalah penyampaian pesan sosialisasi untuk pergaulan islamisasi untuk kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Ilmu komunikasi dasar pembentukannya menggunakan metode deduksi minus wahyu.

Sedang ilmu dakwah menggunakan metode deduksi induksi plus wahyu. Agar lebih memahami tingkat keilmuan ilmu dakwah sejauh ini, perlu dianlisis tiga landasan:

  1. Ilmu-ilmu Bantu Ilmu Dakwah.

Ilmu dakwah selalu membutuhkan bantuan ilmu-ilmu lainnya di dalam memahami objek studi materi dan objek studi formanya.

Ilmu dakwah dan ilmu-ilmu agama islam.

Ilmu dakwah memiliki kaitan sangat erat dengan ilmu agama islam seperti Tafsir, Fikih, Perbandingan agama, dan sebagainya. Hal ini akan semakin dapat diketahui hal-hal yang berkaitan dengan dakwah baik dengan cara-cara dakwah, pengaruhnya terhadap sikap dan tingkah laku seseorang, media-media dakwah dan masalah-masalah yang lain yang termasuk objek forma ilmu dakwah.

Ilmu-ilmu agama juga membutuhkan bantuan ilmu dakwah dalam menyampaikan dirinya kepada umat manusia. Tanpa diterangkan dan disampikan kepada masyarakat, ilmu-ilmu agama tersebut hanya merupakan suatu ide belaka yang tidak bisa terwujud dalam kenyataan serta tidak diketahui orang lain.

 

 

Ilmu-ilmu Dakwah dengan Ilmu-ilmu Sosial Politiik.

Ilmu-ilmu Sosial menerangkan berbagai macam segi kehidupan individu dan sosial secara detail dan terperinci. Ilmu ini dapat membantu ilmu dakwah dalam memahami masyarakat tersebut, sebab penyampain ajaran Islam yang menjadi sarana ilmu dakwah sangat komplek yang menyangkut segi struktur sosial, proses sosial, interaksi sosial, dan perubahan sosial seperti yang dibahas dalam sosiologi; maupun tingkah laku manusia sebagai pribadi sosial dan masalah-masalah kejiwaan lainnya seperti yang dikaji dalm ilmu psikologi dn psikologi sosial.

Ilmu Dakwah dan Ilmu-ilmu Normatif dan Metodologis

Ilmu-ilmu normatif adalah ilmu-ilmu yang membicarakan bagaimana seharusnya sesuatu itu, sebagai kebalikan dari ilmu-ilmu positif yang membicarakan suatu menurut apa adanya. Yang termasuk ilmu normatif adalah: ilmu penelitian (riset), ilmu logika, ilmu bimbingan, dan penyuluhan, retorika, publisistik/komunikasi, dan sebagainya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s